januari serta keinginan untuk tidak peduli akan hal-hal yang kau pun tidak pedulikan
hai langit malam bulan januari yang tenang. gimana perasaanmu dihujani kembang api kemarin? tidak seriuh yang dulu-dulu bukan? oh iya, maaf aku lupa kalau ada kamu yang juga ikut menyemarakkan kemarin. selamat tahun baru bagi yang merayakan. biarpun agak banyak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tidak apa-apa ya? semoga doa-doa yang kamu panjatkan seraya meledaknya bunga api dapat terkabul oleh pencipta.
terpujilah kamu karena masih bisa duduk dengan nyaman. gadget masih tersambung koneksi internet. makan makanan yang mengenyangkan. menghirup udara dengan lancar dari lubang hidung. atau sekadar menyeruput kopi favoritmu itu.
bagi yang tidak merayakan secara gamblang sepertiku ini, kamu pasti sudah tahu kenapa alasannya bukan? perayaan yang tidak ada alasan fundamental untuk merayakannya tentu aku memilih untuk tidak.
riuh keramaian orang-orang yang menggila adalah salah satu alasan betapa aku membenci perayaan tahun baru. ya aku benci keramaian! apalagi yang saling bercericau tanpa duduk perkara yang jelas. apalagi hingga mengganggu burung-burung yang tengah terlelap di dahan pohon teduh. apalagi ya? pokoknya aku benci. biarpun pada kenyataannya tahun ini tidak demikian hehe.
dengan merayakannya dalam hati saja sudah cukup bagiku. mengenai betapa beruntungnya orbit bumi tidak kusut selama 366 hari perjalanannya kemarin. pandemi pada awal tahun kemarin, tentunya menjadi tamparan keras bagi kita semua tentang makna penting kebersamaan dalam suatu perkumpulan. perkumpulan apapun; pertandingan sepak bola kek, rapat kepengurusan qosidah kek, atau mungkin sekadar bersekolah yang nyatanya kita rindukan semasa setahun belakangan ini.
tapi dengan segala keterbatasan dan ujian yang bertubi-tubi ini, kamu bisa selamat dan tetap hidup hingga detik ini! selamat ku ucapkan sekali lagi. seburuk-buruk keadaan, yang bisa kita ubah tentu hanya diri kita sendiri, yakan?.
sampai pada awal tahun ini, sambil menatap temaram kembang api di langit kota pahlawan, aku meyakini nasibku yang kandas seiring meledaknya bunga api, indah, penuh warna, lalu perlahan memudar, hilang.. sampai detik ini ekspektasiku mengenai dirimu pun tidak pernah jelas. cinta kembang api ku sebutnya, hanya sebuah fantasi sendiri mengenai dirimu yang tak pernah anggap aku ada.
perihal cinta, sayang, suka atau apalah itu, kita pemula, katanya..
namun adakalanya kita harus belajar untuk secara profesional dan berjiwa ksatria meyakini bahwa yang menurut kita baik untuk kita, belum tentu baik untuk kita. perjalanan panjang ini pada akhirnya aku akhiri dengan ending menggantung. karena seharusnya dengan melihatmu bahagia saja itu sudah cukup.
pada tahun ini aku inginnya merelakanmu..



Komentar
Posting Komentar