sebuah cerita yang prolognya pun rasanya belum selesai
akhirnya aku tersadar sejak pertama kali aku tulis ini, rasa yang sendirian itu tidak baik. mei kemarin menjadi salah satu bulan yang agaknya rumit untuk kita lalui bersama bukan? namun bagiku lamanya durasi bulan tersebut mungkin disebabkan semesta yang memaksa kita bertemu juga. aku masih ingat betul bagaimana reaksi mu saat pertama kali kita bertegur sapa, kamu terlihat bersemangat sekali. keluar dari kantor yang tampak baik-baik saja ketika sebagian besar penghuninya keluar, kamu melangkah pelan namun pasti, sambil menengok kiri dan kanan. tinggimu ternyata kurang lebih sama denganku ya, dan itu cukup mengejutkan. karena memang dari foto profil Whatsapp- mu yang siluet itu, aku tidak bisa menerka apa-apa selain dari bentuk rambut. rambut yang nyatanya masih tertata rapih selama 8 jam bekerja, pipi dan kening yang tampak sedikit licin itu, menunjukkan betapa pengapnya kantor tempatmu bekerja. oh, juga, hoodie yang tergantung ditas selempangmu, nampak lelah meneman...








