better, next time


                           


Pada dasarnya, manusia memang makhluk yang tidak pernah puas dengan perjalanan hidupnya sendiri.
Terus menerus membanding bandingkan dengan, sesamanya, yang menjadi idamannya barang selamanya.
Iri, hasrat, dengki, cemburu saling beradu tak terbendung oleh akal rasionalitas!
Hanya saja, tak melulu yang tampak berkilau itu emas, bisa saja tahi di atas onggokan berlian. Yang mana jika kita cungkil, maka silaulah biji mata kita. Itulah keduniawian yang maha membelenggu, maha fana, & maha nikmat.
...
Pada suatu titik, yang dibutuhkan itu hanya ikatan sosial, jangan pada tingkatan emosional.
Karna bagai kutukan jika ikatan itu sudah membelit jiwamu.
'Kau kan terus membanding mandingkan masa sekarangmu dengan masa lalumu yang, barangkali lebih sedikit kurang lebih bermakna.
'Kau akan menimbang-nimbang batu kiri dan kanan lalu melempar batu yang dikehendaki sambil berkata "sial!".
Hanya ikatan emosionallah yang menggerakan kaki ke padanya ketika harus bersusah payah menempuh dimensi, namun tidak terlihat adanya meskipun ada did mata.
Hanya ikatan emosionallah yang menguatkan diri untuk tetap bisa terjaga dikala kantuk mendera, namun lelap ketika tak bersamanya.
Hanyalah wajar jika seseorang selama kurun waktu tiga tahun--penuh kegembiraan, kegemilangan, keduniawian, kebersamaan, kesetiaan, kekonyolan, kebodohan--yang selalu membersamai dalam proses pendewasaan diri akan begitu terikat dijiwa.
...
Hidup itu bagaikan mekarnya bunga dikala indah-indahnya. Singkat. Mekar sebentar. Indah. Terkenang. Hingga akhirnya mati oleh sang Waktu.
Lalu apakah sejarah yang sudah berlalu harus dirata-ratapi, hingga menggila sendiri?
Jangan ya, hidupmu singkat.
Pepatah lama mengatakan, yang lalu biarlah berlalu, namun aku pribadi kurang setuju.
Yang lalu, harus jadi bahan pembelajaran!
Terlalu hangus akan egosentrisme diri menyebabkan sejarahmu tidak seindah sejarah orang lain. Itu yang bisa diambil dari tiga tahun masaku yang hilang begitu saja. Yang menurut sebagian--atau mungkin jika ku tanya satu persatu, menjadi seluruhnya--menjadi masa yang paling indah, paling menyilaukan bagai berlian tadi.
Diriku meranggas oleh sikap egoistik yang tinggi, hingga akhirnya waktu terus menjahit ikatan yang bukan ikatan emosional. Sebatas ikatan sosial.
Sekedar kenal nama, atau tanggal lahir.
Busuk diterjang diri yang terus dihantui akan harapan yang lebih baik.
Sekarang masaku tinggal dua tahun lagi (insyaallah), dan aku tak akan mengulangi sejarah ku yang dulu lagi!
...
Jika Waktu mengendaki demikian, semoga lain waktu lebih baik. Aku tak mengapa. Hanya sedang mengingat ngingat saja.

Komentar

Postingan Populer