sebuah cerita yang prolognya pun rasanya belum selesai


    akhirnya aku tersadar sejak pertama kali aku tulis ini, rasa yang sendirian itu tidak baik.

mei kemarin menjadi salah satu bulan yang agaknya rumit untuk kita lalui bersama bukan? namun bagiku lamanya durasi bulan tersebut mungkin disebabkan semesta yang memaksa kita bertemu juga.

aku masih ingat betul bagaimana reaksi mu saat pertama kali kita bertegur sapa, kamu terlihat bersemangat sekali. keluar dari kantor yang tampak baik-baik saja ketika sebagian besar penghuninya keluar, kamu melangkah pelan namun pasti, sambil menengok kiri dan kanan. tinggimu ternyata kurang lebih sama denganku ya, dan itu cukup mengejutkan. karena memang dari foto profil Whatsapp-mu yang siluet itu, aku tidak bisa menerka apa-apa selain dari bentuk rambut. rambut yang nyatanya masih tertata rapih selama 8 jam bekerja, pipi dan kening yang tampak sedikit licin itu, menunjukkan betapa pengapnya kantor tempatmu bekerja. oh, juga, hoodie yang tergantung ditas selempangmu, nampak lelah menemani seharian bekerja. entah kenapa kamu tersenyum, tidak nampak gigi dan bertingkah lelah itu tidak mengganggu.

ah, saat itu pukul setengah lima sore, kita berdua berbincang secara langsung untuk pertama kalinya. hangat, tenang, dan berbagai perasaan baik mulai masuk ke kapiler ditubuhku membuat kami terlarut begitu lama. karakteristik rumput lapangan yang tajam-tajam sama sekali tidak mengusik kita saat itu. obrolan bak teman lama karena bahasannya tidak tentu arah. mungkin, kala itu hanya kendaraan yang samar lalu-lalang serta beberapa laron yang berterbangan di lampu yang menjadi saksi, bahwa akan ada harapan untuk cerita ini.

terkejut oleh dering handphone, membuatku sadar bahwa ternyata sudah lebih dari satu minggu kita sudah tidak bertukar pesan, bertemu pun rasanya kamu enggan. menatap kembali riwayat pesan singkatmu sebelum kita bertemu menjadi kegiatan yang kusempatkan ketika libur. kini entah kenapa sifatmu yang berbeda itu kamu sampaikan secara tak langsung seperti ini. yah, pada akhirnya keputusan untuk menyampaikan perasaan untuk lebih dari sekedar teman agaknya terlalu cepat, ya. ketakutanku betul terjadi. kini aku aku pun sendiri lagi.

Komentar

Postingan Populer